Koja-Koja Poadhati, Ini Penjelasan Empat Tokoh Sentral Baubau

Foto bersama usai kegiatan
Foto bersama usai kegiatan

TEGAS.CO,. BAUBAU – Forum pemerhati budaya Buton melangsungkan Koja-Koja Poadhati dengan mengangkat tema “Sara Patangunga dan PO-5 dalam Perspektif ke Butonan”.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pancasila tersebut menghadirkan empat tokoh sentral, yaitu LM. Sjafei Kahar, H. A.S Tamrin, Umar Samiun dan Wa Ode Maasra Manarfa. Senin (15/02/21).

Walikota Baubau H A.S Tamrin mengungkapkan bahwa PO-5 bukanlah plagiat melainkan sebuah desertasi karya ilmiah yang menjadi jargon selama kepemimpinannya.

Ia juga menegaskan bahwa berangkat dari tergerusnya nilai moral yang ada saat ini membuat ia prihatin dan ingin kembali menggaungkan nilai luhur Sarapatanguna dalam nama PO-5, namun hal itu dilakukan untuk revitalisasi dan internalisasi nilai-nilai budaya lokal Buton ke masyarakat.

Ia juga menyampaikan, berkat kesadaran para Aparatur Sipil Negera (ASN) kota Baubau yang selalu mengutamakan saling menyayangi dan membantu, sehingga berbagai penghargaan dan capaian berhasil ia raih selama dua periode menjabat sebagai Wali Kota Baubau.

Diskusi yang dipandu Abah Aslan tersebut juga mendapatkan tanggapan dari mantan Bupati Buton Senior L M Sjafei Kahar.

” Sebenarnya budaya Buton bukan tidur hanya kurang dibicarakan, dalam grub Whatsapp atau media sosial lainnya sering dibicarakan Sara Pataguna, nanti munculnya PO 5 sebagai pembandingannya”, ungkapnya.

Ditempat yang sama, Syafei Kahar juga menambahkan bahwa Sara Pataguna dan PO.5 sebenarnya sama saja, tidak ada yang berubah. Menurutnya, yang terpenting bukan judul tetapi bagaimana penerapannya di pemerintah dan masyarakat pada umumnya.

Mantan Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun yang juga Tokoh Adat mengatakan bahwa ada dua faktor yang ia telaah dan disepakati bersama bahwa Sarapatanguna tidak bergeser nilainya.

“Hal itu melalui desertasi ilmiah yang dipaparkan pak Tamrin tadi, hanya satu yang tidak bisa disanding sehingga menjadi pobinci-binciki kuli tadi semua jadi harus diturunkan karena tidak sesuai Primakausa tapi tadi menurut saya sudah clear tidak ada masalah”, jelasnya.

Sarapatanguna adalah filsafat yang dibuat oleh leluhur pada masa lampau dan ini berarti milik semua masyarakat Buton tanpa membedakan dari wilayah mana ia berasal.

Namun demikian dinamika yang terjadi hari ini Sarapatanguna telah berubah nama menjadi PO-5 meskipun sudah di jelaskan bahwa PO-5 itu adalah Sarapatanguna namun sebaiknya nama Sarapatanguna kembali digaungkan.

Umar Samiun juga mengapresiasi Leluhur pada jaman dahulu karena cukup cerdas membuat Sarapatanguna.

Poin kedua ia berharap, Sarapatanguna menjadi pegangan bersama, baik pemerintah dengan masyarakatnya maupun masyarakat bersama masyarakat.

Orang Buton Utara sangat senang mengembalikan ke Butonan-nya, orang Wakatobi semangat kembali menjadi Buton Timur, justru Kota Baubau sendiri alergi dengan Kebutonan itu sendiri, kira – kira seperti apa jadinya? ‘, herannya.

Untuk tulisan, kata Umar, Buton itu sendiri harus di klarifikasi pemerintah Kota Baubau, awalnya tulisannya adalah Boeton selanjutnya di zaman Bupati Zainal Arifin Sugianto di ubah menjadi Buton, dan sekarang di hapus.

“Saya kurang tahu mau di ubah menjadi apa?”, imbuhnya

Nilai norma masa kini dan lampau Sarapatanguna dan PO-5 berbeda dalam frasa namun sama menjadi kesimpulan yang menyatukan semua pihak demi mencapai kebersamaan persepsi untuk meraih Kepulauan Buton kedepan. Koja-koja poadhati ditutup dengan foto bersama.

Reporter : JSR

Editor : YA